Advertisement

Kendal Branding PARIWISATA MASA DEPAN, PAD Dibidik Rp2 Miliar


323 Ribu Wisatawan Jadi Modal, Pariwisata Didorong Naik Kelas dari Destinasi Menjadi Mesin Ekonomi Daerah
KENDAL, SAPUJGAD.NET : Kabupaten Kendal mulai menempatkan pariwisata bukan sekadar sebagai etalase daerah, tetapi sebagai instrumen pertumbuhan ekonomi. Dengan 323.161 kunjungan wisatawan sepanjang 2026, pemerintah daerah membidik Pendapatan Asli Daerah (PAD) sekitar Rp2 miliar dari tiga objek wisata yang dikelola sektor pariwisata, sembari memperluas efek ekonomi melalui hotel, restoran, kafe, UMKM, desa wisata hingga investasi destinasi.
Ahmad Syahrul Falah


Arah tersebut menandai upaya Kendal membangun branding pariwisata masa depan. Strateginya tidak lagi hanya mengejar jumlah pengunjung, tetapi membangun ekosistem yang membuat wisatawan datang, tinggal lebih lama, membelanjakan uang, kemudian menggerakkan rantai ekonomi lokal.

Kabid Pariwisata Disporapar Kabupaten Kendal Ahmad Syahrul Falah mengatakan, target sekitar Rp2 miliar tersebut optimistis dapat dicapai dari tiga objek wisata yang dikelola pemerintah daerah.

Insyaallah kami optimistis bisa mencapai angka kurang lebih Rp2 miliar.”

Pendapatan itu antara lain bersumber dari tiket masuk serta retribusi kios pada daya tarik wisata. Namun, menurut Syahrul, nilai ekonomi pariwisata tidak tepat apabila hanya dihitung dari penerimaan langsung objek wisata.
Hotel, restoran, kafe, usaha makanan-minuman, jasa wisata hingga sektor hiburan merupakan bagian dari mata rantai yang ikut bergerak ketika kunjungan wisata meningkat.

Pariwisata tidak hanya bicara retribusi. Ketika wisata berkembang, hotel, restoran, kafe dan usaha masyarakat juga ikut tumbuh.

Bisa Dikonversi

Peserta International Paragliding Cross Country Bupati Cup 2026 dari luar negeri

Data kunjungan sebanyak 323.161 wisatawan menjadi indikator penting. Namun angka kunjungan belum otomatis identik dengan peningkatan PAD. Tantangan berikutnya adalah meningkatkan nilai ekonomi setiap kunjungan melalui belanja wisatawan, durasi tinggal, konsumsi produk lokal dan penggunaan jasa pariwisata.

Pemkab Kendal mencoba memperkuat fondasi tersebut melalui Calendar of Event 2026, pameran potensi daerah seperti Kendal Open Fair dalam rangka Hari Jadi ke-421 Kendal, pengembangan lebih dari 50 desa wisata, wisata bahari, agrowisata serta penguatan UMKM.


Curug Sewu di Kecamatan Patean menjadi salah satu titik pengembangan. Destinasi alam tersebut diperkuat dengan atraksi paralayang dan penyelenggaraan International Paragliding Cross Country Bupati Cup 2026.


Syahrul menilai kegiatan berskala internasional mempunyai nilai strategis lebih besar daripada sekadar mendatangkan peserta. Event dapat menjadi instrumen promosi destinasi sekaligus membentuk citra Kendal pada pasar wisata yang lebih luas.


“Kita mempunyai alam yang luar biasa. Potensi itu harus dikenalkan, dikembangkan dan dikemas menjadi daya tarik yang mempunyai nilai ekonomi.”

Infrastruktur Menjadi Kunci


Pengembangan destinasi juga tidak dapat dipisahkan dari aksesibilitas. Pemerintah daerah, menurut Syahrul, terus mengupayakan perbaikan infrastruktur menuju kawasan wisata.


Salah satu yang disiapkan adalah pelebaran akses jalan Sidomerto–Kalices. Jalur tersebut dinilai strategis karena dapat menjadi alternatif yang memangkas perjalanan menuju kawasan wisata bagian atas Kendal.


Dalam industri pariwisata, kualitas jalan, waktu tempuh, keselamatan, fasilitas umum dan kenyamanan merupakan bagian dari produk wisata itu sendiri. Destinasi menarik akan kehilangan daya saing apabila akses menuju lokasi sulit.


“Kepuasan wisatawan bukan hanya ditentukan objeknya, tetapi juga bagaimana mereka mencapai destinasi dengan mudah dan nyaman.


Bukan Hanya Milik Pemerintah

Pesona nan indah, spot di Curug Sewu Patean Kendal


Strategi pariwisata Kendal juga diarahkan agar tidak bertumpu pada destinasi milik pemerintah. Objek wisata yang dikelola swasta maupun masyarakat tetap memiliki kontribusi ekonomi melalui pajak hiburan, aktivitas perdagangan, akomodasi, kuliner serta penyerapan tenaga kerja.


Karena itu, kolaborasi antara pemerintah, pengelola destinasi, desa wisata, pelaku UMKM dan swasta menjadi faktor penting.
Syahrul meminta pengelola wisata terus meningkatkan kapasitas dan tidak berhenti melakukan inovasi.
“Jangan bosan belajar dan jangan mudah putus asa. Pariwisata tidak dapat berjalan sendiri; kita harus bekerja sama dan maju bersama untuk Kabupaten Kendal.”

Menjadi Mesin PAD

Branding “Ayo Dolan Kendal” pada akhirnya menghadapi ujian yang lebih konkret: apakah promosi mampu dikonversi menjadi kunjungan berulang, transaksi ekonomi dan peningkatan PAD.

Kendal mempunyai modal geografis yang relatif lengkap, mulai bentang pesisir hingga kawasan pegunungan. Potensi desa wisata, wisata bahari seperti Pantai Indah Kemangi, agrowisata, Curug Sewu, olahraga dirgantara dan ekonomi kreatif membuka ruang pembentukan paket wisata yang saling terintegrasi.

Target Rp2 miliar karena itu bukan garis akhir. Angka tersebut justru dapat menjadi parameter awal untuk mengukur seberapa efektif pemerintah mengubah potensi alam, event dan branding menjadi pendapatan ekonomi yang terukur.

“Wisata yang kuat bukan hanya ramai dikunjungi, tetapi mampu menghidupkan usaha masyarakat dan menghasilkan nilai tambah bagi daerah.”

Jika integrasi destinasi, infrastruktur, kalender event, UMKM dan investasi dapat dijalankan secara konsisten, pariwisata Kendal berpeluang bergerak dari sektor pelengkap menjadi salah satu mesin pertumbuhan ekonomi daerah.

Kendal tidak cukup hanya indah untuk dikunjungi. Tantangan berikutnya adalah membuat setiap kunjungan meninggalkan nilai ekonomi bagi masyarakat dan daerah. (Sriyanto/01)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *