Advertisement

Pemandu BERILMU, Wisata BERMAKNA, Budaya TERJAGA

“Bekali langkah dengan pengetahuan, hidupkan perjalanan dengan pemahaman.”

SEMARANG, SAPUJAGAD.NET— Keindahan destinasi membutuhkan pemandu yang mampu menjelaskan makna di baliknya. Tugas pemandu wisata tidak berhenti pada mengantar rombongan, tetapi juga menyampaikan informasi yang akurat, menjembatani pemahaman budaya, dan membangun pengalaman perjalanan yang membuat wisatawan ingin kembali.

Kebutuhan tersebut mengemuka dalam pelatihan pemandu wisata umum yang diselenggarakan DPD ASMIPA Jawa Tengah di Aula Kantor Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Jawa Tengah, Rabu (21/10/2026). Sekitar 40 peserta dari biro perjalanan, pelaku perjalanan wisata, dan pegiat wisata mengikuti pembekalan pengetahuan serta praktik pemanduan profesional.

Membuka kegiatan tersebut, Kepala Dinas Budparekraf Jawa Tengah, Dr. Ir. A.R. Hanung Triyono, M.Si., menempatkan peningkatan kapasitas pemandu sebagai bagian dari upaya memperkuat citra pariwisata daerah. Kualitas destinasi perlu didukung kualitas pelayanan agar kunjungan meninggalkan kesan yang baik.

Ketua DPD ASMIPA Jawa Tengah, Eko Djunaedi.

“Atas nama Pemerintah, Kami mengapresiasi penyelenggaraan kegiatan ini yang merupakan langkah positif guna meningkatkan citra pariwisata Jawa Tengah dengan memberikan kepuasan kepada wisatawan untuk kembali berkunjung di Jawa Tengah,” ujar Hanung.

Menguasai Informasi

Hanung menekankan sejumlah kompetensi yang perlu dimiliki pemandu: penguasaan materi, kemampuan komunikasi, pelayanan prima, kecakapan berinteraksi secara digital, serta kemampuan beradaptasi. Pemandu juga perlu menguasai teknik bercerita atau storytelling, interpretasi budaya, dan prinsip pariwisata berkelanjutan.

Rangkaian kompetensi itu memperlihatkan luasnya tanggung jawab pemandu. Informasi destinasi harus dapat disampaikan secara jelas kepada wisatawan dengan latar belakang dan kebutuhan yang berbeda. Pengetahuan yang luas perlu disertai kemampuan memilih informasi yang relevan dan menyampaikannya secara menarik.

Dalam interpretasi budaya, misalnya, kemampuan bercerita perlu bertumpu pada ketepatan informasi. Sejarah, tradisi, dan kehidupan masyarakat setempat merupakan materi yang membutuhkan pemahaman, bukan sekadar hafalan. Di sinilah pemandu berperan sebagai penghubung antara pengunjung dan identitas suatu tempat.

Materi pelatihan diarahkan untuk memperkuat kebutuhan tersebut. Eko Djunaedi, S.Sos., membawakan materi memimpin perjalanan wisata. Mahfud Ikhsan Ariyadi, S.Kom., memberikan pembekalan mengenai The Art of Ice Breaking & Handling Games.

Sementara itu, Dr. Nina Mistriani, S.E., S.Par., M.M.Par., membahas pemutakhiran pengetahuan dan informasi wisata. R. Panji Damar Samodra, CPOS, menyampaikan materi interpretasi dan laporan pemanduan wisata.

Susunan materi tersebut menghubungkan aspek operasional perjalanan dengan kemampuan mengelola interaksi dan memperbarui pengetahuan. Pemanduan membutuhkan persiapan sebelum keberangkatan, komunikasi selama perjalanan, serta pelaporan sebagai bahan evaluasi.

Menentukan Nilai Profesi

Ketua DPD ASMIPA Jawa Tengah, Eko Djunaedi, berharap pelatihan memberikan manfaat berkelanjutan bagi peserta, terutama dalam memperluas pengetahuan destinasi dan meningkatkan kemampuan melayani wisatawan.

Pelatihan Pemanduwisata yang diselenggarakan DPD ASMIPA Jawa Tengah

Ia juga mengaitkan kapasitas pemandu dengan peluang memperoleh penghasilan dari jasa yang diberikan.

“Dengan jasanya, para Pemandu Wisata akan memperoleh imbalan atau penghasilan sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya,” kata Eko.

Pernyataan tersebut menempatkan kompetensi sebagai modal kerja. Bagi pemandu, kemampuan memimpin perjalanan, menjelaskan destinasi, dan menjaga kualitas interaksi merupakan bagian dari nilai jasa profesional yang ditawarkan.

Karena itu, pembekalan sehari perlu dipandang sebagai tahap pengembangan kapasitas. Bahan kegiatan ini belum memuat hasil evaluasi keterampilan peserta maupun informasi sertifikasi kompetensi. Keberhasilan pelatihan selanjutnya perlu dilihat dari penerapan pengetahuan dalam praktik pemanduan.

Harapan agar kegiatan berlangsung secara berkelanjutan menjadi relevan: kemampuan profesional memerlukan pembaruan informasi, pengalaman lapangan, dan evaluasi pelayanan secara konsisten.

Destinasi dan Kepentingan Warga

Hanung menyampaikan bahwa Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mendorong pariwisata yang berkualitas, berdaya saing, berkelanjutan, dan memberikan manfaat nyata kepada masyarakat.

Pencapaian itu, menurutnya, membutuhkan kolaborasi pemerintah, dunia usaha, organisasi profesi, lembaga pendidikan, komunitas, dan masyarakat. ASMIPA diharapkan menjadi mitra strategis dalam peningkatan kapasitas sumber daya manusia, pengembangan jejaring, serta penguatan profesionalisme pelaku pariwisata.

Dalam kerangka tersebut, peran pemandu juga berkaitan dengan pelestarian budaya dan hubungan dengan masyarakat di sekitar destinasi. Pengalaman wisata perlu dibangun dengan menghormati kehidupan warga serta keberlanjutan tempat yang dikunjungi.

“Mari Kita bangun sinergi agar para Pemandu Wisata tidak hanya menjadi tenaga profesional yang mampu memberikan pelayanan terbaik,” pesan Hanung.

Ia melanjutkan, pemandu diharapkan menjadi penggerak promosi destinasi, pelestari budaya, dan mitra masyarakat dalam mewujudkan pariwisata Jawa Tengah yang semakin maju dan berkelanjutan.

Pelatihan ini membuka ruang untuk memperkuat peran tersebut. Tantangan berikutnya adalah menerjemahkan materi menjadi pelayanan yang dapat dirasakan wisatawan dan masyarakat: informasi yang dapat dipercaya, perjalanan yang terkelola, serta pengenalan budaya yang menghormati pemiliknya.

Dari situlah profesi pemandu memperoleh arti yang lebih luas. Ia mengantar orang mengenal sebuah tempat sekaligus membantu memastikan tempat itu dipahami, dihargai, dan dijaga. (*)

Sriyanto

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *