- Pengalaman boleh membawa seseorang jauh, tetapi pengabdian terkadang memanggilnya kembali ke tempat perjalanan itu bermula.”
KENDAL, SAPUJAGAD.NET — Bagi Mardi Edi Susilo, SE.Par., M.Par., pariwisata bukan sekadar urusan destinasi dan angka kunjungan. Bidang ini adalah “rumah” tempat perjalanan kariernya di Pemerintah Kabupaten Kendal pernah tumbuh.

Kini, setelah malang melintang dalam birokrasi hingga memimpin Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD), Mardi kembali ke rumah lamanya dengan tanggung jawab lebih besar: memimpin Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kabupaten Kendal.
Wajah sukacita terlihat setelah Mardi dilantik dan diambil sumpah jabatannya sebagai Kepala Disporapar Kabupaten Kendal. Jabatan tersebut seperti mempertemukan kembali dirinya dengan bidang yang pernah membentuk perjalanan awal kariernya.
Dunia pariwisata memang bukan ruang baru bagi Mardi. Sebelum menduduki sejumlah jabatan strategis, ia pernah mengawali perjalanan di lingkungan Disporapar sebagai kepala bidang pariwisata, kemudian dipercaya menjadi sekretaris dinas.
Pengalaman itulah yang menjadi modal penting ketika dirinya kini kembali, bukan sebagai kepala bidang atau sekretaris, tetapi sebagai nakhoda utama Disporapar Kendal.
Pulang Membawa Pengalaman
Kembalinya Mardi ke sektor pariwisata memiliki arti tersendiri. Pengalamannya dalam pengelolaan keuangan dan aset daerah di BPKAD dapat menjadi bekal tambahan untuk melihat pariwisata tidak hanya dari sisi keindahan destinasi, tetapi juga melalui perspektif tata kelola, investasi, aset, pelayanan dan potensi pendapatan daerah.
Tantangan yang dihadapi pun tidak ringan. Pariwisata Kendal harus mampu bersaing merebut perhatian wisatawan di tengah banyaknya pilihan destinasi di Jawa Tengah.
Target pendapatan hingga Rp2 miliar dari retribusi dan sumber pendapatan lain di lingkungan objek wisata menjadi salah satu pekerjaan yang harus diterjemahkan melalui strategi konkret.
Namun bagi Mardi, membangun pariwisata tidak cukup dengan sekadar mengajak orang datang.
Ia membawa cara pandang sederhana namun memiliki makna strategis.
“Apa yang kita lihat di sana, apa yang harus diperbaiki. Apa yang bisa kita beli di sana. Dan apa yang bisa kita kerjakan di sana.”
Tiga pertanyaan tersebut menjadi dasar untuk membaca sebuah destinasi.
Wisatawan harus mendapatkan sesuatu untuk dilihat, memperoleh sesuatu untuk dibeli, sekaligus menemukan aktivitas yang dapat dikerjakan dan dinikmati.
Artinya, destinasi tidak boleh hanya menjual panorama. Infrastruktur dan fasilitas harus terus diperbaiki, produk ekonomi kreatif serta UMKM harus tumbuh, sementara atraksi dan aktivitas wisata harus mampu membuat pengunjung tinggal lebih lama.
Ketika wisatawan datang lebih lama, berbelanja lebih banyak dan memperoleh pengalaman yang berkesan, perputaran ekonomi masyarakat juga akan semakin besar.
Punya Modal Besar
Kabupaten Kendal sejatinya memiliki lanskap pariwisata yang lengkap.

Di wilayah selatan terdapat kawasan pegunungan dengan salah satu ikon utama Curugsewu di Kecamatan Patean. Di wilayah Boja terdapat Kolam Renang Boja, sementara bentang pesisir Kendal memiliki Wisata Bahari Sendang Sikucing di Kecamatan Rowosari.
Potensi tersebut diperkuat berbagai destinasi yang dikembangkan pihak swasta dan masyarakat.
Ada Tirto Arum Baru, River Walk Boja, Pantai Ngebum, hingga wisata terapi ikan Kalikesek di Desa Sriwulan, Kecamatan Limbangan. Belum lagi wisata religi dan desa-desa wisata yang terus berkembang di berbagai kecamatan.
Keberagaman itu menjadi modal besar Kendal.
Tantangannya adalah bagaimana seluruh potensi tersebut tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi terhubung dalam sebuah ekosistem pariwisata yang mampu menggerakkan transportasi, kuliner, UMKM, ekonomi kreatif, perhotelan hingga pemberdayaan masyarakat desa.
Menghidupkan Masyarakat
Bagi seorang kepala dinas, angka kunjungan wisatawan memang penting. Pendapatan asli daerah juga harus tumbuh. Namun ukuran keberhasilan pariwisata pada akhirnya jauh lebih luas daripada sekadar jumlah tiket yang terjual.
Pariwisata memiliki nilai ketika masyarakat di sekitar destinasi ikut memperoleh manfaat.
Warung menjadi ramai. Produk UMKM dibeli. Pemandu lokal bekerja. Homestay terisi. Pelaku seni mendapatkan panggung. Anak-anak muda memperoleh ruang kreativitas dan desa memiliki sumber ekonomi baru.
Di titik inilah tugas Mardi Edi Susilo sebagai Kepala Disporapar Kendal memasuki babak baru.
Ia pulang ke bidang yang pernah membesarkan perjalanan kariernya, tetapi dengan pengalaman birokrasi yang jauh lebih panjang.
Mardi kini tidak sekadar kembali ke “rumah pariwisata”. Ia kembali membawa pekerjaan besar: menjadikan kekayaan wisata Kendal bukan hanya indah untuk dipandang, tetapi juga kuat menggerakkan ekonomi dan menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakat.
Sriyanto | Kendal








Leave a Reply