Kolom : Kiem Bangsar
Di tengah aroma kopi panas dan denting gitar pemusik jalanan Mas Cemplon dari Banjarejo malam di basecamp Pemuda Pancasila Blora di Ngawen menjadi saksi lahirnya sinergi baru.

Redaksi WJI Network dan Mbah Mun, ‘suhu’ MAC Pemuda Pancasila Blora, bertemu tak sekadar untuk berbasa-basi, melainkan merumuskan peran strategis media dan ormas dalam menjaga kondusivitas dan menjawab kebutuhan informasi rakyat Blora. Sebuah obrolan hangat yang menegaskan bahwa perubahan bisa dimulai dari meja kopi.
Silaturahmi itu bukan sekadar temu biasa. Ada semangat sinergitas yang dibahas secara terbuka: tentang pentingnya kolaborasi antara media dan civil society — ormas dan LSM — dalam menjaga stabilitas sosial serta mengawal informasi yang dibutuhkan publik.
Mas Bangsar dan duo Slamet, jurnalis WJI Network, menyampaikan apresiasi atas sambutan hangat Mbah Mun. Bagi mereka, kesempatan ini bukan hanya momen silaturahmi, tapi juga bentuk nyata dari keinginan redaksi WJI untuk “turun gunung” menyatu dengan masyarakat.
“Media bukan menara gading,” ujar Mas Bangsar. “Kami ingin menyuarakan apa yang dirasakan langsung oleh warga, bukan sekadar bicara dari balik meja redaksi.”
Mbah Mun sendiri tak ragu mengacungi jempol. Ia melihat langkah WJI Network sebagai bentuk inovatif dari kerja jurnalistik. “Ini contoh yang harus ditiru. Wartawan jangan hanya di kota. Harus ke lapangan, ke desa, ngopi bareng rakyat,” ucapnya tegas.
Diskusi pun berkembang. Dari peran ormas dalam mendinginkan suasana politik lokal, hingga pentingnya media sebagai jembatan aspirasi rakyat. Mbah Mun menekankan bahwa Pemuda Pancasila Blora selalu terbuka bersinergi, selama tujuannya adalah menjaga kedamaian dan pembangunan daerah.
Ngobrolan malam itu tak terasa berjam-jam. Musik akustik dari Mas Cemplon mengalun santai, menutup forum informal yang penuh makna. Sebuah catatan kecil, bahwa kolaborasi antara media dan civil society bukan mimpi. Di basecamp Ngawen, Blora, itu sudah dimulai dengan secangkir kopi.(01)
















Leave a Reply