“Rencana giling harus berpijak pada kepastian pasokan. Mengabaikan petani berarti mempertaruhkan bahan baku.”
BLORA, SAPUJAGAD.NET— Paguyuban Petani Tebu Blora (PPTB) memprotes manajemen Pabrik Gula GMM di Todanan, Kabupaten Blora, karena merasa tidak dilibatkan dalam perencanaan musim giling 2027. PPTB mengingatkan, mengabaikan keterlibatan petani di sekitar pabrik berisiko mengganggu pasokan bahan baku dan memperberat persoalan operasional perusahaan.

Anton Sudibyo Ketua PPTB kepada wartawan Sapujagad.Net Kamis (5/11/2026), meminta Direktur Utama GMM, Benhur Ngkaimi, merangkul petani tebu Blora lintas komunitas dalam persiapan musim giling mendatang.
Menurut Anton, mayoritas anggota PPTB merupakan petani penyangga dan petani di wilayah ring satu atau sekitar pabrik. Karena itu, keterlibatan mereka dinilai penting dalam penyusunan rencana pasokan tebu.
“PPTB, Paguyuban Petani Tebu Blora, protes kepada Dirut GMM, Saudara Benhur, karena tidak dilibatkan dalam rencana giling tahun 2027,” ujar Anton.
Ia menilai manajemen perlu menyatukan potensi petani yang selama ini masih terkelompok dalam berbagai komunitas. Tanpa koordinasi tersebut, Anton mengkhawatirkan kebutuhan bahan baku pabrik tidak terpenuhi.
“Kalau manajemen GMM tidak mau menyatukan para petani tebu Blora lintas komunitas untuk menuju sukses giling tahun 2027, dikhawatirkan pabrik akan kekurangan bahan baku,” katanya.
Ia juga mengkhawatirkan kekurangan pasokan akan membuat GMM kembali menghadapi akan mengalamai kerugian. Meski Anton tidak menyebut data kebutuhan tebu, proyeksi pasokan, maupun laporan keuangan perusahaan untuk mengukur risiko tersebut.
Ia mendasarkan desakannya pada klaim bahwa GMM tidak memiliki kebun tebu sendiri sehingga pasokan bahan baku bergantung pada petani.
“Karena fakta lapangan, GMM tidak punya kebun tebu sama sekali. Jadi, tebu yang ada di Blora semuanya milik petani,” ujar Anton.
Anton meminta direksi membangun kerja sama yang melibatkan berbagai kelompok petani. Menurutnya, potensi petani Blora perlu dihimpun menjadi kekuatan untuk mendukung kebangkitan pabrik.
“Hendaklah Dirut GMM bisa menyatukan potensi petani tebu Blora untuk dijadikan kekuatan menuju kebangkitan, yang sekarang ini masih terkotak-kotak,” tuturnya.
Edukasi Serius

Selain keterlibatan dalam perencanaan, Anton mendorong edukasi dan pembinaan budidaya secara serius. Ia berharap peningkatan kualitas tebu dapat mendukung pencapaian rendemen dua digit serta memperkuat posisi Blora dalam industri gula nasional.
Bahan keterangan yang menjadi dasar berita ini belum memuat tanggapan manajemen GMM mengenai protes PPTB, mekanisme pelibatan petani, maupun kesiapan bahan baku untuk musim giling 2027.
Liputan -Bangsar26






Leave a Reply