Ketua Dewan Pers: Indonesia Gelap Bentuk Refleksi Psikologis Warga

"Sumber daya melimpah, penduduk besar, alam kaya, tapi kenapa Indonesia masih seperti pasar dan bukan produsen ". Prof Komarudin.

JAKARTA, SAPUJAGAD.NETKetua Dewan Pers, Prof. Komaruddin Hidayat, menilai maraknya isu dan tagar #IndonesiaGelap yang ramai diperbincangkan masyarakat merupakan bentuk refleksi psikologis warga terhadap situasi yang mereka alami. Menurutnya, situasi tersebut lahir dari akumulasi rasa pesimistis yang berkembang di tengah masyarakat, terutama dari kalangan anak muda dan mahasiswa.

Aksi Indonesia gelap mahasiswa

“Bahkan tanpa pidato pun, kalau kita tanya mahasiswa dan masyarakat, memang suasana terasa gelap. Maksudnya bukan gelap fisik, tetapi kondisi batin yang pesimistis melihat masa depan,” kata Komaruddin dalam program Real Talk with Uni Lubis by IDN Times di Studio IDN Times, Jakarta, Senin (21/7/2025).

Lebih lanjut ia menyoroti banyak orang tua sudah menyekolahkan anak-anaknya hingga perguruan tinggi dengan biaya besar, namun setelah lulus justru kesulitan mendapatkan pekerjaan.

Komaruddin mengungkapkan, keresahan ini tidak hanya muncul dari kalangan pengangguran, tetapi juga dari mereka yang sudah bekerja. Ketika masyarakat melihat kondisi negara-negara seperti Korea Selatan, Singapura, Jepang, atau China yang lebih maju, mereka tidak bisa menahan diri untuk membandingkan.

“Sumber daya kita melimpah, penduduk besar, alam kaya, tapi kenapa Indonesia masih seperti pasar dan bukan produsen? Ini yang dirasakan masyarakat,” ujar dia.

Tagar #IndonesiaGelap menurut Komaruddin tidak lepas dari realitas yang terjadi di lapangan. Ia mencontohkan, para mahasiswa penerima beasiswa luar negeri yang merupakan generasi pilihan pun mengeluhkan sulitnya mendapatkan pekerjaan setelah pulang ke Indonesia. Bahkan, tak sedikit yang meminta izin bekerja di luar negeri lebih lama karena peluang kerja di dalam negeri sangat sempit.

Data pengangguran juga menjadi sorotan. Komaruddin menyampaikan, banyak sarjana juga akhirnya menganggur.

“Gelar sarjana hari ini bukan lagi jaminan untuk mendapatkan pekerjaan. Bahkan yang sudah punya keahlian dan ikut berbagai pelatihan pun mengeluh karena minimnya akses jika tidak punya koneksi,” ucap dia.

Bangun Narasi Optimis

Ia menilai, kesenjangan sosial juga menjadi pemicu munculnya pesimisme. Salah satunya terkait fenomena pejabat publik, terutama wakil menteri yang merangkap jabatan sebagai komisaris di perusahaan BUMN.

“Saya mendengar memang alasannya demi tambahan penghasilan karena gaji wamen dianggap kecil. Tapi tetap saja, bagi masyarakat awam, ini menimbulkan rasa ketidakadilan,” kata dia.

Menurutnya, pemerintah memang perlu menjaga optimisme dalam menyampaikan pidato-pidato publik, tetapi juga harus jujur terhadap tantangan yang dihadapi bangsa. (Red/01))

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *