KARTASURA,SAPUJAGAD.NET — Tiga setengah abad hampir berlalu, keraton boleh tinggal benteng, makam, dan jejak sejarah. Namun ingatan masyarakat Kartasura terhadap akar peradabannya belum padam. Memasuki usia ke-346 tahun, warga kembali berkumpul di Petilasan Keraton Kartasura untuk menggelar Umbul Dungo Ambal Warsa Kartasura, merawat sejarah melalui doa, dzikir, dan kebersamaan.

Umbul Dungo digelar di Bangsal Keraton Kartasura sebagai bagian dari rangkaian peringatan Ambal Warsa Kartasura ke-346. Acara berlangsung sederhana namun khidmat, dengan dzikir dan tahlil yang dipimpin Ustadz Suwarno.
Kartasura memiliki posisi penting dalam perjalanan sejarah Jawa. Wilayah ini pernah menjadi pusat pemerintahan Mataram Islam dan kemudian menjadi bagian penting dari sejarah lahirnya Kasunanan Surakarta serta Kasultanan Yogyakarta.
Meski bangunan keraton kini tidak lagi berdiri utuh, sejumlah peninggalan seperti benteng dan kompleks pemakaman masih menjadi penanda perjalanan sejarah panjang Kartasura.
Tradisi Umbul Dungo menjadi salah satu cara masyarakat menjaga hubungan dengan warisan tersebut. Bukan sekadar mengenang masa lalu, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkuat kebersamaan dan kesadaran terhadap identitas sejarah daerah.
Acara dihadiri Camat Kartasura Ichwan Sapto Darmono, Kapolsek Kartasura AKP Tugiyo, Danramil 06 Kartasura Kapten Sudir, Lurah Kartasura Syaifudin, serta sejumlah tokoh agama dan masyarakat.
Hadir pula Kyai Ismail Toyib, KH Muhammad Najib, Ustadz Suwarno, tokoh budaya, serta warga Kartasura.
Ketua Panitia Ambal Warsa Kartasura ke-346, Prof. Ivan, menyampaikan apresiasi kepada seluruh masyarakat yang ikut mendukung terselenggaranya Umbul Dungo.
“Terima kasih kepada seluruh masyarakat Kartasura yang telah menyengkuyung kegiatan Umbul Dungo. Meskipun digelar secara sederhana, acara berlangsung lancar dan penuh kekhidmatan,” ujarnya.
Menurut Ivan, rangkaian Ambal Warsa tidak berhenti pada kegiatan doa bersama. Pada 1–11 Oktober 2026 direncanakan digelar pesta rakyat yang diisi bazar dan berbagai hiburan masyarakat.
Rangkaian tersebut kemudian akan ditutup dengan Kirab Budaya pada 15 Oktober 2026.
Ambal Warsa Kartasura ke-346 mengusung tema “Nyawiji Ing Rasa, Guyub Ing Karsa, Kuncara Ing Nusantara.”
Tema itu membawa pesan agar masyarakat menyatukan rasa, memperkuat kebersamaan dalam kehendak, sekaligus membawa nama Kartasura tetap dikenal sebagai salah satu simpul penting sejarah dan kebudayaan Nusantara.
Dari petilasan keraton, masyarakat Kartasura seolah mengirim satu pesan: bangunan boleh berubah dimakan zaman, tetapi sejarah tidak boleh kehilangan pewarisnya.
NUGIE






Leave a Reply