SEMARANG, SAPUJAGAD.NET – Bahan ajar berbasis etnomatematika Candi Borobudur telah selesai diimplementasikan di kelas dan kini memasuki tahap pengolahan data hasil tes siswa. Implementasi tersebut dilaksanakan pada bulan September hingga Oktober 2026 di kelas IX SMP Nusa Bhakti Semarang yang berlokasi di Jl. Wologito Barat No.125, Kembangarum, Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang, Jawa Tengah.
Pembelajaran matematika di tingkat sekolah menengah kerap dianggap sebagai pelajaran yang kaku dan penuh rumus abstrak. Guna mengatasi tantangan tersebut, tim peneliti dari Universitas Negeri Semarang (UNNES) yang diketuai oleh Ariella Nur Wahyuni, dan beranggotakan Riska Fitro’atul Ulya, Nur Ayudya Rosenda Bintang Agestiara, Cahya Sari Ardiani, dan Shafa Rizqia Khoirunnisa merancang bahan ajar bernama MATHBORO yang memadukan materi bangun ruang kerucut dengan kemegahan Candi Borobudur.
Setelah melalui serangkaian persiapan matang, bahan ajar ini telah selesai diimplementasikan secara langsung dalam proses pembelajaran di kelas. Saat ini, tim peneliti tengah fokus mengumpulkan serta menghitung data post-test guna mengukur seberapa besar dampak kemampuan pemecahan masalah matematis setelah menggunakan bahan ajar MATHBORO.
Mengenal MATHBORO
MATHBORO merupakan Pengembangan Bahan Ajar Terintegrasi Problem-Based Learning dan Etnomatematika terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis. Bahan ajar ini dirancang secara khusus untuk membantu siswa kelas IX SMP Nusa Bhakti Semarang dalam memahami materi Luas Permukaan dan Volume Kerucut secara lebih konkret.
Melalui pendekatan etnomatematika, objek budaya Candi Borobudur dihadirkan sebagai jembatan konsep. Kebudayaan dan kemegahan arsitektur stupa tidak lagi sekadar objek sejarah, melainkan sarana visual untuk memahami luas permukaan dan volume kerucut.
Tahapan Pembelajaran
Proses implementasi di ruang kelas dilaksanakan mengikuti lima tahapan utama model Problem Based Learning (PBL). Siswa mengawali pembelajaran dengan mengamati masalah nyata seputar proyek pemugaran dan restorasi stupa Candi Borobudur, lalu berkolaborasi dalam kelompok untuk melakukan eksplorasi mandiri terkait luas permukaan dan volume kerucut. Pada tahap berikutnya, siswa menyajikan hasil penyelesaian dengan mempresentasikan di depan kelas guna memperoleh tanggapan, pertanyaan, dan masukan dari kelompok lain.
Pelaksanaan Post-Test
Setelah seluruh belajar berbasis aktivitas selesai dilaksanakan, kegiatan dilanjutkan dengan tahap evaluasi. Tim peneliti memberikan post-test untuk mengukur seberapa besar dampak kemampuan siswa setelah menggunakan bahan ajar MATHBORO.
Instrumen tes akhir ini disusun secara rinci berdasarkan parameter pemecahan masalah dari National Council of Teachers of Mathematics (NCTM). Indikator yang diukur mencakup kemampuan siswa dalam memahami masalah, menyusun model matematika, menerapkan strategi penyelesaian, hingga menginterpretasikan hasil perhitungan.
Tahap Analisis Data
Tahap krusial yang saat ini sedang berlangsung adalah analisis statistik terhadap data pre-test dan post-test yang telah dikumpulkan. Pengolahan data ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengembangan bahan ajar MATHBORO terintegrasi Problem Based Learning (PBL) berbasis etnomatematika dapat dinyatakan layak, efektif, serta memperoleh tanggapan positif dari murid dalam mengukur seberapa besar dampak kemampuan pemecahan masalah matematis murid.
Tim peneliti berharap hasil perhitungan data ini dapat memberikan bukti nyata bahwa integrasi budaya lokal mampu memberikan dampak terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis. MATHBORO diharapkan dapat menjadi referensi utama atau modul pendamping yang konkret dalam pembelajaran geometri, guna menjembatani kesenjangan antara teori matematika abstrak dengan realitas budaya murid. (*)
















Leave a Reply