
BLORA, WARTAJAVAINDO.NET WORK : Tiga Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kecamatan Tunjungan, masing-masing Desa Sukorejo, Tamanrejo, dan Tutup, resmi melounching program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Senin (31/8/2025). Ribuan paket makanan sehat dibagikan kepada penerima manfaat, mulai siswa sekolah hingga kelompok 3B (ibu hamil, menyusui, dan balita), sebagai langkah strategis meningkatkan kualitas gizi masyarakat pedesaan.

Peluncuran program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah Kecamatan Tunjungan menandai momentum penting dalam upaya pemerataan akses pangan sehat. Tiga dapur SPPG yang digerakkan di Sukorejo, Tamanrejo, dan Tutup berhasil membagikan lebih dari 6.000 paket MBG pada hari pertama. Rinciannya, SPPG Sukorejo menyalurkan 2.500 paket dari total kuota 3.000, SPPG Tamanrejo 2.100 paket, dan SPPG Tutup 1.500 paket.
Koordinator SPPG Tunjungan, Setiawan Dwi Yulianto, SH, menegaskan bahwa kegiatan ini tidak hanya soal distribusi makanan, melainkan bagian dari sistem terintegrasi untuk menjaga kualitas gizi. “Produksi dan pendistribusian MBG dilakukan sesuai SOP, mulai dari tenaga kerja hingga pemasok bahan makanan kami prioritaskan dari warga dan suplier lokal Blora,” ujarnya kepada Wartajavaindo Network.
Siswa Antusias

Pantauan di SDN Sukorejo II menunjukkan antusiasme tinggi siswa saat menerima paket MBG. Anak-anak menyantap hidangan dengan gembira, menandakan program ini menyentuh kebutuhan riil. Kepala sekolah, Sri Wulandari, memberikan masukan penting terkait variasi menu. “Jangan sampai makanan tidak dimakan hanya karena rasanya tidak sesuai. Menu favorit seperti nasi goreng bisa jadi alternatif agar anak-anak lebih menikmati,” katanya.
Masukan tersebut langsung direspon Setiawan yang menyatakan pihaknya akan mengevaluasi dan menyesuaikan menu agar tetap memenuhi standar gizi sekaligus selera penerima manfaat. “Yang utama tetap keseimbangan gizi – protein, karbohidrat, dan vitamin harus terpenuhi,” tegasnya.
Partisipasi Lokal
Selain menyalurkan paket makanan, dapur SPPG juga membuka ruang partisipasi bagi masyarakat sekitar. Tenaga kerja dapur direkrut dari warga desa, sementara kebutuhan bahan baku dipasok dari petani dan pedagang lokal. Pola ini diharapkan menciptakan ekosistem ekonomi sekaligus memperkuat rasa memiliki masyarakat terhadap program MBG.
Secara keseluruhan, lima dapur SPPG di Kecamatan Tunjungan ditargetkan mampu mengcover sekitar 15.000 penerima manfaat. Evaluasi berkelanjutan dan keterlibatan stakeholder menjadi kunci agar program MBG tidak hanya berumur pendek, melainkan berkelanjutan.
Program MBG di Tunjungan adalah cermin nyata bagaimana kebijakan pangan bergizi dapat menyentuh level akar rumput. Bukan sekadar distribusi makanan, melainkan langkah strategis membangun generasi sehat dan cerdas di wilayah Blora. (Red/@bangsar25)















Leave a Reply