“Pemimpin boleh berganti, tetapi air harus tetap mengalir, jalan tetap dilalui, dan ekonomi warga terus bergerak.
BLORA, SAPUJAGAD.NET — Di Desa Jurangjero, Kecamatan Bogorejo, Kab. Blora, jejak seorang kepala desa tidak hanya terlihat dari jalan desa yang mulus, paving yang membelah perkampungan atau talud yang berdiri di pinggir jalan. Jejak itu bisa ditemukan pada lembar sertifikat tanah yang tersimpan di rumah-rumah warga. Bisa dilihat pada truk-truk milik penduduk yang kini bergerak mencari muatan. Dan yang paling sederhana, bisa dirasakan ketika keran masih mengalir saat kemarau mulai mengeringkan sumber air di sejumlah wilayah Blora.
Di desa paling utara-timur Kecamatan Bogorejo yang berbatasan dengan Kabupaten Rembang itu, Suwoto sang Kepala Desa, menerjemahkan pembangunan dengan cara yang sederhana: apa yang dibangun hari ini harus tetap berguna ketika dirinya sudah tidak lagi menjadi kepala desa.

Suwoto memimpin Jurangjero sejak 2019. Pria kelahiran 1968 itu bukan kepala desa yang asing dengan kerasnya mencari penghidupan. Sebelum dan selama menjadi kepala desa, hidupnya tetap bersentuhan dengan tanah, perdagangan dan dunia usaha.
Ia bertani, tangannya pernah sibuk membuat mebel, juga berdagang palawija, serta sampai sekarang masih menjalankan usaha angkutan untuk kegiatan pertambangan. Dari pekerjaan-pekerjaan itulah ia memahami bahwa keluarga desa tidak hanya membutuhkan bantuan. Mereka membutuhkan kesempatan untuk mempunyai aset, memperoleh modal, bekerja dan berkembang dengan kemampuan sendiri.
Bersama istrinya, Sukati, dan dua anaknya, Suwoto membangun kehidupan keluarga dari berbagai sumber penghasilan tersebut. Barangkali pengalaman itulah yang kemudian membentuk cara pandangnya ketika dipercaya warga memimpin Desa Jurangjero.
Baginya, membangun desa tidak cukup dengan membuat bangunan. Pembangunan harus membuka jalan agar masyarakat dapat membangun hidupnya sendiri.
Janji dari Pilkades
Pemilihan kepala desa selalu penuh janji. Panggung kampanye selesai. Suara dihitung. Pemenang ditetapkan. Setelah itu, masyarakat menunggu apakah kalimat yang disampaikan ketika meminta dukungan benar-benar berubah menjadi pekerjaan.
Suwoto memahami ukuran tersebut. Saat maju dalam pemilihan kepala desa, ia membawa visi dan misi pembangunan Desa Jurangjero. Setelah dipercaya memimpin sejak 2019, satu per satu agenda itu dikerjakan.
Menurut Suwoto, sebagian besar program yang pernah dijanjikan kepada masyarakat kini telah dilaksanakan. Seperi pembangunan Jalan kampung dipaving. Jalan Usaha Tani (JUT) dibangun agar petani lebih mudah menjangkau lahan sekaligus membawa hasil panen.
Talud dibuat dan direhabilitasi serta sejumlah infrastruktur lain dikerjakan bertahap mengikuti kebutuhan masyarakat dan kemampuan keuangan desa.
Tetapi pembangunan fisik bukan satu-satunya cerita. Justru ada dua program yang efeknya melampaui umur sebuah proyek: sertifikasi tanah dan pembangunan sumur artesis. Yang satu mengubah tanah menjadi kekuatan ekonomi. Yang lain memastikan kehidupan tetap mengalir ketika kemarau datang.
Sertifikat Mengubah Nasib
Dahulu, tanah bagi sebagian warga Desa Jurangjero adalah tempat tinggal, warisan keluarga atau lahan yang dimanfaatkan turun-temurun. Nilainya ada. Tetapi tidak seluruhnya mempunyai kekuatan administratif yang memungkinkan tanah tersebut berkembang menjadi instrumen ekonomi.

Program Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) kemudian membuka babak baru. Tanah-tanah warga memperoleh sertifikat. Bagi masyarakat, sertifikat tersebut bukan sekadar bukti hukum yang kemudian disimpan rapi di lemari. Ia menjadi aset. Dan aset membuka akses menuju modal.
Sebagian warga kemudian menggunakan sertifikat tanah sebagai agunan untuk memperoleh pembiayaan perbankan. Uangnya tidak seluruhnya habis untuk kebutuhan konsumtif. Ada yang menjadikannya modal usaha.
Sebagian membeli truk. Peluang usaha angkutan hasil tambang yang berkembang di sekitar wilayah tersebut kemudian dimanfaatkan. Satu truk muncul. Kemudian bertambah. Kini, cukup banyak warga Jurangjero memiliki armada angkutan sendiri.
Dari sebuah desa yang mayoritas masyarakatnya hidup dari pertanian padi, jagung dan palawija, perlahan tumbuh kelompok masyarakat yang juga menjadi pelaku usaha transportasi.
Bukan lagi sekadar pekerja. Sebagian mulai menjadi pemilik alat produksi. Di sinilah efek sebuah kebijakan desa terlihat panjang. Sertifikat memberi kepastian hukum. Kepastian melahirkan nilai aset. Aset membuka permodalan. Modal kemudian menciptakan usaha.
Bagi Suwoto, pemberdayaan masyarakat tidak berarti pemerintah desa harus menyediakan pekerjaan untuk setiap orang.
Pemerintah desa cukup membantu membuka pintu. Wargalah yang kemudian harus mempunyai keberanian untuk masuk dan mengembangkan usahanya.
Ada risiko di balik itu. Kredit tetap harus dibayar. Usaha angkutan tetap membutuhkan muatan. Kendaraan membutuhkan biaya perawatan dan bahan bakar. Namun masyarakat kini memiliki pilihan ekonomi yang sebelumnya lebih sempit. Tanah tidak lagi hanya diam. Ia ikut bekerja.
Tanah Bengkok Terbatas
Jurangjero bukan desa dengan kemewahan aset tanah desa yang luas. Mayoritas penduduknya hidup dari pertanian padi, jagung dan palawija. Sebagian memanfaatkan tanah persil yang berada dalam kawasan Perhutani.
Bahkan tanah bengkok kepala desa sendiri tidak sampai satu hektare. Angka itu jauh berbeda dengan sejumlah wilayah lain di Blora, di mana tanah bengkok kepala desa dapat mencapai beberapa hektare.
Keterbatasan tersebut justru membuat pembangunan Jurangjero memiliki tantangan tersendiri. Tidak banyak aset yang dapat diandalkan. Karena itu, pembangunan harus bertumpu pada kemampuan membaca kebutuhan dan memilih program yang efeknya paling terasa oleh masyarakat.
Suwoto mengetahui persoalan itu bukan dari meja kantor. Ia sendiri petani. Ia mengerti apa artinya akses jalan menuju sawah. Ia mengetahui sulitnya mengangkut hasil panen ketika jalan pertanian buruk.
Dan sebagai pelaku usaha, ia memahami bahwa modal menentukan apakah sebuah kesempatan hanya akan dipandang dari kejauhan atau benar-benar dapat diambil.
Memimpin masyarakat yang bekerja keras menuntut pemimpin memahami dari mana nasi di meja makan mereka berasal.
Mengebor Bumi, Mencari Kehidupan
Jika sertifikat memberikan napas bagi ekonomi, air memberikan kehidupan dalam arti paling harfiah. Blora mengenal kemarau panjang. Ketika bulan-bulan kering datang, sumber air di sejumlah wilayah menyusut. Sebagian masyarakat harus menghemat air. Di sejumlah tempat, bantuan air bersih menjadi kebutuhan.
Jurangjero tidak ingin selamanya hidup dengan kecemasan yang sama. Pemerintah desa di bawah kepemimpinan Suwoto kemudian membangun tiga titik sumur artesis. Sumur berkapasitas paling besar berada di Dukuh Jurangjero.
Untuk pembangunan salah satu sumur tersebut, sekitar Rp100 juta Dana Desa dialokasikan. Bor menembus lapisan tanah. Air ditemukan. Lalu mengalir menuju kebutuhan masyarakat. Nilai proyek boleh dihitung dengan rupiah. Namun nilai air ketika kemarau tidak selalu dapat dihitung dengan angka.
Air berarti anak-anak bisa mandi sebelum sekolah. Air berarti dapur tetap mengepul. Air berarti keluarga tidak harus menyimpan kecemasan setiap kali musim hujan berakhir. Dan bagi Suwoto, keberhasilan itu paling mudah dibaca ketika kemarau datang.
“Kalau di wilayah lain di Blora sudah kesulitan air saat musim kemarau, Alhamdulillah warga di sini tidak kesulitan air.”
Ia tidak sedang berbicara tentang bangunan monumental. Ia berbicara tentang sesuatu yang setiap hari dicari manusia sejak bangun tidur: air.
Sebuah sumur mungkin tidak tampak megah. Tetapi ketika kemarau datang, kedalaman sumur bisa lebih berarti daripada tingginya sebuah gedung.
Satu Rumah Besar
Sekitar 2.900 jiwa hidup di Desa Jurangjero. Mereka tersebar di empat dukuhan: Jurangjero, Lawe, Goloyo dan Kembang, dengan Kembang menjadi dukuhan terbesar. Sekitar 2.500 penduduk tercatat memiliki hak pilih. Artinya, memimpin Jurangjero berarti menghadapi ribuan pikiran, kebutuhan dan kepentingan.
Tidak semua orang akan mempunyai pendapat yang sama. Tidak setiap pembangunan selalu diterima tanpa perdebatan. Dan Suwoto mengakui bahwa perjalanan memimpin desa tidak selalu datar.
Ada rintangan, ada persoalan. Ada masa ketika seorang kepala desa harus mengambil keputusan di tengah perbedaan kepentingan. Namun ia memilih terus maju. Bagi Suwoto, pembangunan boleh menjadi arena perdebatan, tetapi hubungan antarwarga jangan sampai menjadi korban.
Ada satu kalimat yang terus ia pegang: “Yang terpenting masyarakat adem ayem, damai.”
Kalimat itu singkat. Namun dalam pemerintahan desa, kedamaian tidak sesederhana bunyinya. Membangun jalan membutuhkan anggaran. Membangun talud membutuhkan material. Tetapi membangun kepercayaan membutuhkan waktu.
Dan menjaga masyarakat tetap rukun sering kali membutuhkan kesabaran lebih panjang daripada menyelesaikan proyek fisik.
Sebab jalan retak bisa diperbaiki dengan semen. Hubungan sosial yang retak tidak selalu mudah disambung kembali.
Tak HanyaTinggalkan Nama
Usia kepemimpinan selalu terbatas. Hari ini seseorang duduk sebagai kepala desa. Besok kursi itu akan ditempati orang lain. Suwoto memahami hukum sederhana tersebut. Karena itu, ukuran warisan bukan berapa lama seseorang berkuasa.
Ukuran sesungguhnya adalah apa yang masih bekerja setelah ia pergi. Kelak, nama kepala desa pada papan kantor dapat berubah. Tetapi paving tetap diinjak warga. Jalan usaha tani masih dilalui petani membawa jagung dan padi. Talud tetap menahan tanah.
Sertifikat tetap menjadi bukti kepemilikan warga. Truk-truk tetap bergerak membawa muatan dan penghasilan bagi keluarga. Dan sumur artesis diharapkan tetap mengalir ketika kemarau kembali datang.
Itulah bentuk warisan yang ingin ditanam Suwoto di Jurangjero. Bukan semata-mata monumen yang menyimpan nama seorang kepala desa. Tetapi manfaat yang tinggal di tengah masyarakat.
Dari perjalanan hidupnya sebagai petani, pembuat mebel, pedagang palawija hingga pengusaha angkutan, Suwoto tampaknya memahami satu filosofi yang sederhana: rezeki tidak datang hanya karena menunggu. Jalan menuju rezeki harus dibuka.
Di Jurangjero, sebagian jalan itu telah dibuka. Ada jalan yang dibangun dengan paving. Ada jalan yang dibuka melalui sertifikat. Ada pula jalan kehidupan yang dibor ratusan meter ke dalam bumi untuk menemukan air.
Dan ketika kelak masa kepemimpinannya selesai, Suwoto mungkin tidak perlu meninggalkan terlalu banyak kalimat untuk dikenang. Cukup melihat air yang masih mengalir. Cukup mendengar deru truk milik warga yang berangkat mencari penghasilan.
Dan cukup menyaksikan petani pulang dari ladang melalui jalan yang dahulu pernah ia bangun. Sebab warisan terbaik seorang pemimpin bukanlah namanya yang paling lama disebut, melainkan manfaatnya yang paling lama dirasakan.
Bambang Sartono






Leave a Reply