TAK ADA Rasa Was-Was di POJOK Jetakwanger

NGAWEN, SAPUJAGAD.NET : Wajah-wajah ceria dan rasa lega terpancar di Dukuh Pojok, Desa Jetakwanger, Kecamatan Ngawen, Blora. Bukan tanpa alasan: sebuah akses pendek yang selama ini menentukan ritme hidup harian, jalur anak sekolah, petani, dan pergerakan ekonomi antar dukuh hingga ke desa tetangga Sumberejo, kini kembali aman dilalui.

Rehabilitasi Jembatan Dukuh Pojok, Ds. Jetakwanger yang diresmikan Kamis sore (12/2/2026)ini, oleh Kapolres Blora AKBP Wawan Andi Susanto, S.H., S.I.K., M.H. menjadi penanda bahwa pembangunan infrastruktur desa tidak harus menunggu lama ketika data lapangan, kepedulian, dan gotong royong bertemu.

Secara ukuran, Jembatan Dukuh Pojok hanya sepanjang 9 meter dan lebar 2,5 meter. Namun fungsinya tidak kecil. Kepala Desa Jetakwanger, Suyono mengungkapkan, jembatan itu adalah jalur harian yang menghubungkan mobilitas antar dukuhan serta akses antar desa, termasuk ke Sumberejo. Di atas jembatan itulah aktivitas pendidikan, pertanian, dan ekonomi berjalan dalam satu garis yang sama, pagi untuk anak sekolah, siang untuk petani, sore untuk arus jual-beli dan mobilitas warga.

Suyono Kades Jetakwanger

“Jembatan Dukuh Pojok itu merupakan akses jalan masyarakat antar dukuhan di Desa Jetakwanger, dan akses jalan antar desa di sekitar Jetakwanger seperti Desa Sumberejo,” kata Suyono.

Sayap Jembatan Longsor

Masalah muncul ketika kerusakan terjadi pada bagian sayap jembatan. Longsor membuat jalan hampir putus dan kondisi menjadi berbahaya, terutama saat musim hujan. Situasi ini bukan sekadar gangguan, melainkan ancaman keselamatan, karena banyak anak sekolah melintasi titik tersebut setiap hari.

“Kerusakan di sayap jembatan longsor, jalan hampir putus, sehingga tidak bisa dilewati. Apalagi saat musim penghujan, itu akan sangat membahayakan,” ujar Suyono.

Dalam konteks desa, “akses putus” berarti lebih dari sekadar memutar jalur. Itu bisa memaksa anak sekolah terlambat atau absen, menghambat pergerakan hasil pertanian, dan menambah biaya logistik warga. Ketika jembatan bermasalah, desa menanggung konsekuensi berlapis.

Suyono menjelaskan rehabilitasi jembatan ini berawal dari program pembangunan infrastruktur yang melibatkan TNI-Polri, sebagai bagian dari dorongan pembangunan jembatan yang diinstruksikan dalam arah kebijakan pemerintah pusat. Di Blora, pelaksanaan dilakukan oleh Polres Blora.

Langkah kuncinya adalah pendataan. Kapolres Blora, menurut Suyono, menekankan kepada jajaran Kapolsek untuk mendata desa mana yang membutuhkan perbaikan atau pembangunan jembatan. Karena Jetakwanger berada di wilayah kerja Polsek Ngawen, Kapolsek Ngawen AKP Lilik ES turun langsung menanyakan kebutuhan riil desa.

Kapolsek Ngawen AKP Lilik ES datang ke Jetakwanger dan menanyakan, apakah ada jembatan yang perlu perbaikan, sehingga akhirnya ditunjuklah jembatan di Dukuh Pojok,” tutur Suyono.

Dalam praktiknya, inilah titik yang sering menentukan keberhasilan program: bukan sekadar rencana, melainkan keberanian turun ke lapangan dan memastikan prioritas ditetapkan berdasarkan kebutuhan warga.

Kerja Gotong Royong

Pembangunan berjalan cepat: sekitar tiga minggu sejak pengerjaan dimulai. Skema pembiayaan, kata Suyono, berasal dari bantuan Polres dan diperkuat swadaya masyarakat. Sementara pengerjaan dilakukan dengan gotong royong: warga bersama anggota Polsek Ngawen dan Polres Blora.

“Untuk dana pembangunan, semua bantuan dari Polres dan sebagian dari swadaya masyarakat. Pengerjaannya gotong royong warga bersama anggota Polsek Ngawen dan Polres Blora,” ujarnya.

Model ini menekan dua persoalan sekaligus: percepatan waktu dan rasa memiliki. Infrastruktur tidak lagi dipandang sebagai “proyek orang luar”, melainkan hasil kerja bersama yang dijaga bersama.

Simbol Keamanan

Peresmian jembatan Dk Pojok, Ds Jetaakwanger pada Kamis sore (12/2/2026) oleh AKBP Wawan Andi Susanto tidak hanya menjadi seremoni. Di mata warga Dukuh Pojok, Jetakwanger, dan wilayah sekitar termasuk Sumberejo, peresmian itu berarti satu hal: ketenangan. Anak-anak tidak lagi menyeberang dengan rasa waswas. Petani kembali leluasa mengangkut kebutuhan pertanian. Aktivitas ekonomi antar dukuh dan antar desa dapat bergerak normal.

Suyono menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas kepedulian Polres Blora dan Polsek Ngawen.“Sebagai pimpinan desa dan masyarakat Jetakwanger, kami bersyukur dan berterima kasih kepada Kapolres Blora dan Kapolsek Ngawen yang telah peduli,” ucapnya.

Dari Dukuh Pojok, pelajaran pentingnya jelas: pembangunan desa tidak selalu menuntut proyek raksasa. Terkadang yang paling menentukan adalah memastikan akses dasar, jembatan, jalan penghubung, titik rawan, berfungsi aman. Ketika akses aman, desa punya modal penting untuk menjaga pendidikan tetap berjalan, pertanian tetap produktif, dan ekonomi desa tidak tersendat.

Dan sore itu, di Jetakwanger, wajah-wajah ceria bukan sekadar ekspresi gembira. Itu adalah tanda bahwa sebuah desa baru saja memulihkan denyutnya. (@bangsar26)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *