Cuek tak pernah respon & abaikan keluhan lingkungan
TUNJUNGAN, SAPUJAGAD.NET: Ketegangan antara warga dan pengelola dapur MBG di kawasan Perumahan Blingi Bahagia, Sukorejo 2, Kecamatan Tunjungan, Kabupaten Blora, terus meningkat. Warga di lingkungan SPPG Sukorejo 2 (Blingi) mengaku semakin kesal lantaran persoalan bau limbah dapur tak kunjung terselesaikan, ditambah sikap mitra pengelola yang dinilai tidak kooperatif.

Keluhan utama warga adalah bau menyengat yang diduga berasal dari instalasi pengolahan air limbah (IPAL) dapur MBG. Bau tersebut disebut kerap muncul dan mengganggu aktivitas sehari-hari masyarakat sekitar, terutama pada waktu-waktu tertentu.
“Bau itu masih sering muncul, sangat mengganggu. Kami sudah berkali-kali menyampaikan keluhan, tapi seperti tidak dianggap,” ungkap salah satu warga yang enggan disebutkan namanya.
Tak hanya soal bau, warga juga menyoroti sikap pengelola yang dinilai cuek dan tertutup. Bahkan, menurut pengurus RT setempat, pihak mitra tidak pernah merespons upaya komunikasi dari warga.
“Pengurus RT saja ketika ingin menemui tidak dilayani. Ini yang membuat warga semakin jengkel,” ujar salah satu tokoh kompleks perumahan Blingi Bahagia itu.
Atas kondisi tersebut, warga mendesak Satgas MBG Kabupaten Blora untuk turun tangan dan memberikan peringatan tegas kepada pihak pengelola, khususnya kepada Wasano Basuki, yang dikenal dengan nama Pak Be, sebagai penanggung jawab mitra dapur MBG.
Di sisi lain, pihak pengelola SPPG Sukorejo 2 mengakui adanya keluhan dari masyarakat terkait dugaan pencemaran lingkungan. Kepala SPPG Sukorejo 2, Ahmad Afif Jaelani, menyampaikan bahwa pihaknya tengah berupaya melakukan perbaikan sistem pengolahan limbah.
“Memang ada keluhan terkait bau. Saat ini kami sedang melakukan peningkatan fasilitas IPAL, termasuk pemasangan bio-tank yang alatnya sudah datang,” jelas Afif saat dikonfirmasi, Senin (4/5/2026).
Ia mengungkapkan bahwa IPAL yang ada saat ini sebenarnya sudah memenuhi standar dasar, namun kapasitasnya belum mencukupi sehingga menyebabkan limbah meluber dan menimbulkan bau tidak sedap.
Sebagai langkah sementara, pihak pengelola mengaku melakukan penyedotan IPAL hingga tiga kali dalam seminggu guna mengurangi dampak bau.
Ada komunikasi terbuka
Sementara itu, Koordinator SPPG Kecamatan Tunjungan, Setiawan, juga mengakui bahwa aroma yang ditimbulkan cukup mengganggu masyarakat. Ia berharap perbaikan yang sedang dilakukan bisa segera tuntas.
“Memang baunya cukup mengganggu. Kami berharap proses pembangunan IPAL yang baru bisa segera selesai dan mengatasi keluhan warga,” ujarnya.
Meski perbaikan tengah berjalan, warga berharap ada langkah nyata dan komunikasi terbuka dari pihak pengelola. Mereka menegaskan bahwa kenyamanan lingkungan tempat tinggal tidak bisa dikompromikan dan harus menjadi prioritas utama. (@nic/01)













Leave a Reply