Perjuangkan GMM agar tetap bisa giling 2-3 bulan lagi
BLORA, SAPUJAGAT.NET : Tak mau nasibnya terus digiling ketidakpastian, petani tebu yang tergabung dalam APTRI Blora kembali bergerak cepat ke Jakarta. Senin (27/4), mereka memulai rangkaian audiensi hingga ke Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, menuntut satu hal mendesak: selamatkan musim giling 2026 dan rombak total manajemen Pabrik Gula Gendis Multi Manis (GMM).
Gelombang protes petani tebu Blora masih membara. Setelah sebelumnya menyampaikan aspirasi kepada Presiden ke-7 RI Joko Widodo, kini Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Blora kembali “nglurug” ibu kota. Mereka membawa kegelisahan yang sama mandeknya operasional PG GMM di Todanan yang mengancam ribuan petani.

Sekretaris APTRI Blora, Anton Sidibyo menegaskan bahwa langkah ini tak sekadar audiensi seremonial, melainkan tekanan moral agar pemerintah segera bertindak. “Kami tidak datang untuk mengeluh, kami datang untuk menagih keberpihakan. Jika dikelola serius, 2–3 bulan pabrik masih bisa giling. Masalahnya bukan mesin, tapi manajemen,” ujarnya tajam.
Agenda mereka ke Jakarta terstruktur: bertemu Kementerian Pertanian, Kementerian BUMN, Bappenas, hingga puncaknya audiensi dengan Wakil Presiden. APTRI juga mendesak penggantian total direksi GMM. “Kami butuh pemimpin yang jujur, amanah, profesional, dan paham hulu-hilir. Tanpa itu, petani hanya akan terus jadi korban,” lanjut Anton.
Masih Bisa Giling
Di sisi lain, Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, memastikan bahwa PG GMM tidak akan beroperasi tahun ini. Namun, Bulog menjanjikan solusi distribusi tebu ke pabrik lain di Jawa Tengah. “Kami akan bantu menyalurkan tebu petani ke empat pabrik PTPN dan SGN. Petani tidak perlu ragu,” katanya.
Pernyataan itu justru menuai kritik. APTRI menilai solusi tersebut bersifat sementara dan tidak menyentuh akar persoalan. “Memindahkan tebu bukan solusi, itu hanya memindahkan masalah. Yang kami butuhkan adalah keberanian memperbaiki sistem,” tegas Anton.
Lebih jauh, ia mengungkapkan bahwa hasil kajian teknis menunjukkan mesin pabrik masih dalam kondisi layak. “Pakar mesin bahkan menyebut fasilitas masih bagus. Jadi alasan tidak bisa giling itu patut dipertanyakan. Kalau ada kemauan politik, ini bisa diselamatkan,” katanya.
Desakan kepada pemerintah semakin menguat: segera ambil keputusan strategis sebelum musim panen terlewat. APTRI memperingatkan, kegagalan menyelamatkan musim giling tahun ini bukan hanya soal ekonomi, tapi juga kepercayaan petani terhadap negara.
“Petani tidak butuh janji, petani butuh kepastian. Kalau negara lambat, maka yang hancur bukan hanya tebu—tapi harapan,” tutup Anton.












Leave a Reply