Advertisement

BOJASegitiga Emas, INDUSTRI dan WISATA Menggeliat

KENDAL,SAPUJAGAD.NETBoja tidak lagi sekadar wilayah lintasan di selatan Kabupaten Kendal. Berada pada jalur strategis yang menghubungkan Kendal dengan Kota Semarang, Kabupaten Semarang hingga Temanggung, kecamatan ini terus menggeliat menjadi simpul baru pertumbuhan ekonomi, dengan industri, perdagangan, UMKM, wisata religi dan kekayaan budaya sebagai penggeraknya.

Sunarto Camat Boja Kendal

Posisi geografis tersebut membuat Boja memiliki nilai strategis dalam pengembangan ekonomi wilayah. Kecamatan dengan luas sekitar 64,09 kilometer persegi dan mencakup 18 desa itu bahkan pernah dilirik Pemerintah Kota Semarang dalam eksplorasi potensi ekonomi dan kewilayahan, termasuk sumber mata air, industri dan wisata religi.

Letak Boja yang menjadi jalur alternatif dari Kota Semarang, Kabupaten Semarang dan Temanggung menuju arah Jakarta melalui Kabupaten Kendal membuat wilayah ini kerap disebut sebagai “Segitiga Emas”.

Denyut pertumbuhan ekonominya terlihat dari aktivitas pertanian, perdagangan, industri hingga usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Sebagian warga Boja juga bekerja di kawasan industri Kota Semarang. Mobilitas tersebut terlihat setiap pagi dan sore ketika kendaraan pekerja memadati jalur Boja–Mijen.

Pasar dan UMKM Perlu Diperkuat

Camat Boja, Sunarto, melihat posisi strategis tersebut sebagai modal untuk mendorong Boja menjadi salah satu wilayah dengan pertumbuhan ekonomi dan perdagangan yang cepat.

Namun, potensi besar itu dinilai membutuhkan dukungan infrastruktur ekonomi yang memadai. Keberadaan pasar, shelter dan ruang usaha bagi UMKM menjadi bagian penting untuk menangkap arus perdagangan antardaerah.

“Menjadi jalur perdagangan dan industri, perlu pasar yang representatif atau renovasi bentuk bangunan baru. Tidak seperti sekarang terlihat masih tradisional,” kata Sunarto.

Penguatan fasilitas perdagangan menjadi penting karena Boja berada pada titik pertemuan aktivitas masyarakat dari Kendal, Kota Semarang, Kabupaten Semarang hingga Temanggung.

Pertumbuhan kawasan juga ditandai dengan berkembangnya perumahan dan permukiman. Pada saat bersamaan, UMKM makanan ringan, sektor kuliner serta destinasi rekreasi seperti Kolam Renang Boja dan Riverwalk ikut menggerakkan perekonomian masyarakat.

Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang menempati kawasan bekas Kantor Kawedanan juga berkembang menjadi ruang rekreasi keluarga dan aktivitas kuliner. Bangunan lama di kawasan tersebut tetap dipertahankan sebagai bagian dari jejak sejarah Boja.

Di tengah perkembangan itu, masih terdapat pekerjaan rumah. Terminal Boja yang dahulu menjadi simpul angkutan penumpang menuju Semarang kini dinilai semakin terpinggirkan dan membutuhkan penataan.

Wisata Religi Jadi Kekuatan Boja

Selain industri dan perdagangan, Boja menyimpan kekuatan pada wisata religi dan sejarah lokal.

Sejumlah desa memiliki situs yang berpotensi dikembangkan sebagai destinasi religi, antara lain makam Kiai Bromo di Desa Bebengan, kawasan Blalak Depok di Desa Ngabean, serta jejak sejarah dan religi di Desa Boja.

Tradisi Syawalan setiap H+7 Lebaran juga terus dipertahankan. Perayaan tersebut diramaikan pasar malam, pertunjukan wayang kulit, gunungan hingga arak-arakan figur Nyi Pandansari dari Balai Desa Boja menuju makam Nyi Pandansari.

“Nyi Pandansari ini tokoh wanita adik Ki Pandanaran yang berhasil membuat air mengalir melintasi bebatuan besar dengan selendangnya,” tambah Sunarto.

Tradisi itu menjadi bagian dari identitas budaya sekaligus modal pengembangan pariwisata berbasis sejarah dan kearifan lokal.

Kesenian masyarakat pun tetap bergerak. Musik keroncong, kelompok band anak muda, kursus pedalangan hingga kelompok karawitan Boja Laras menjadi bagian dari upaya mempertahankan ekosistem seni di tengah pertumbuhan kawasan.

Karnaval Jadi Etalase Potensi

Semangat masyarakat Boja terlihat pula dalam peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Pemerintah Kecamatan Boja menggelar karnaval yang melibatkan pelajar, seniman dan masyarakat umum.

Beragam kreasi busana, drumben, tarian, pertunjukan teatrikal hingga hasil pertanian ditampilkan sebagai etalase kreativitas dan potensi lokal.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Bupati Kendal Dyah Kartika Permanasari, Ketua Dekranasda Murdoko, Anggota DPRD Kendal Tri Purnomo serta sejumlah organisasi perangkat daerah di panggung kehormatan depan RTH dan Pasar Boja.

Boja kini menghadapi momentum penting: mengubah keunggulan geografis menjadi kekuatan ekonomi nyata. Industri memberikan lapangan kerja, UMKM menggerakkan ekonomi lokal, sedangkan wisata religi dan budaya menjaga identitas wilayah.

Jika infrastruktur perdagangan, pasar, terminal dan ruang UMKM mampu diperkuat, predikat “Segitiga Emas” tidak hanya menjadi sebutan geografis, tetapi dapat berkembang menjadi identitas baru pusat pertumbuhan ekonomi di wilayah selatan Kendal.

Sriyanto

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *