
BLORA, SAPUJAGAD.NET – ‘Pesta rakyat’ bertajuk Sedekah Bumi di Desa Karangjong, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Blora, berlangsung semarak selama tiga hari penuh, sejak Selasa hingga Kamis (29–31 Mei 2024).
Tradisi tahunan ini tak hanya jadi ajang syukuran atas berkah dan keselamatan desa, tetapi juga berubah menjadi panggung hiburan besar-besaran yang menyedot perhatian warga sekitar.
Puncak perhatian jatuh pada hiburan langen tayub di hari terakhir, Kamis (31/5), yang digelar di sedang (tanah lapang) desa.

Jika biasanya kesenian tayub identik dengan bapak-bapak yang naik panggung untuk berjoget bersama penayub, kali ini situasinya berbeda. Kelompok emak-emak dari komunitas SWB (Sedulur Warga Blora) justru mendominasi panggung tayub.
Mereka berani tampil dan berjoget ria diiringi gending Nonton Tayub dan Wolu-Wolu, memecah batasan peran dalam tradisi yang selama ini bersifat patriarkal.
Kepala Desa Karangjong, Sugiyono, hadir dalam acara bersama perangkat desa lainnya. “Ini bentuk rasa syukur dan kebersamaan warga. Semua senang dan meriah menikmati hiburan,” ujar Sugiyono singkat.
Selama tiga hari, rangkaian Sedekah Bumi Karangjong diisi dengan berbagai hiburan: dari kondangan massal dan selametan tumpeng, pertunjukan seni tradisi, tayuban, hingga konser dangdut yang digelar Kamis malam hari di halaman rumah Kepala Desa.

Keramaian berlipat saat malam terakhir, ketika panggung dangdut menghadirkan penyanyi lokal yang memancing warga tumpah ruah.
Suasana berubah dari sakral menjadi euforia massal, mencerminkan bagaimana tradisi dan hiburan kini melebur dalam satu ruang sosial yang tidak lagi hitam-putih.
Tradisi Sedekah Bumi di Karangjong memang masih bertahan, tapi kemasannya telah bergeser: dari semata ritual spiritual menjadi pesta kerakyatan dengan warna hiburan yang kian kental.

Sebuah dinamika sosial yang mencerminkan realitas desa hari ini—antara menjaga adat dan memenuhi dahaga ekspresi warga. (Red/01)












