
TUNJUNGAN, SAPUJAGAD.NET : Kepala Desa Tunjungan, Yasir Amma, angkat bicara terkait pemberitaan salah satu media online lokal yang menyebutkan adanya dugaan penyimpangan pada proyek pembangunan ruas jalan desa Tunjungan–Karangkembang.
Menurut Yasir, tudingan tersebut tidak berdasar dan bertentangan dengan fakta lapangan.

“Seluruh tahapan pembangunan jalan ini, mulai dari perencanaan, sosialisasi, pelaksanaan, hingga pelaporan, sudah dilaksanakan secara transparan dan sesuai ketentuan. Semua tertuang dalam hasil Musyawarah Desa yang diikuti oleh perangkat desa dan lembaga-lembaga desa lainnya,” tegas Yasir saat dikonfirmasi awak media Blora di Balai Desa Tunjungan, Sabtu (2/8/2025)
Tiga Usulan, Satu Kesepakatan
Dijelaskan Yasir, dalam perencanaan awal, terdapat tiga opsi pembangunan jalan yang diusulkan: pengaspalan, hotmix, dan pavingisasi box culvert (paving box). Setelah melalui musyawarah bersama, disepakati bahwa opsi pavingisasi box culvert menjadi pilihan paling ideal.
“Kenapa kami memilih paving box? Karena dari target panjang 195 meter, metode ini memungkinkan pembangunan jalan bisa lebih panjang dengan kualitas yang lebih baik, lebih kuat menahan tonase tinggi, dan biaya perawatan lebih rendah dibanding hotmix maupun aspal,” paparnya.
Jalan yang dibangun itu sebelumnya merupakan jalan kabupaten. Namun setelah down grade oleh Pemkab Blora, statusnya berubah menjadi jalan desa. Total panjang jalan yang digrounded sekitar 8 km, salah satunya ruas Tunjungan–Karangkembang.
Anggaran Bertahap

Pembangunan dilakukan bertahap menggunakan Dana Desa tahun anggaran berjalan. Tahap pertama mengalokasikan Rp200 juta untuk 195 meter jalan, sementara tahap kedua direncanakan sepanjang sisa ruas dengan anggaran Rp300 juta. Total alokasi yang disiapkan Pemdes untuk pembangunan jalan ini mencapai Rp500 juta.
Seluruh kegiatan, baik pra maupun pascapelaksanaan proyek, telah terdokumen secara administratif . “Kami bekerja sesuai koridor yang ditentukan. Tidak ada tahapan yang kami lewati begitu saja,” ucap Yasir.
Bantahan atas Isu dan Polemik
Yasir yang juga Ketua Praja Tunjungan membantah isi pemberitaan Portal Media “SJ” yang menarasikan adanya penyimpangan. Ia menilai pemberitaan tersebut tidak mencerminkan kondisi lapangan yang sebenarnya.
“Semua transparan, terbuka. Yang sayangnya memang saat sosialisasi dan pembahasan, perwakilan dari BPD tidak hadir meski sudah kami undang secara resmi. Tapi kami tetap lanjutkan karena musdes tetap kuorum dan dijalankan sesuai aturan,” jelasnya.
Yasir memilih tidak bereaksi berlebihan terhadap konten media sosial maupun TikTok yang mencoba membangun opini negatif terhadap dirinya dan perangkat desa. Ia menekankan pentingnya menjaga kondusivitas dan stabilitas sosial di tingkat desa.
“Yang lebih penting dari sekadar polemik adalah masyarakat bisa merasakan manfaat langsung dari pembangunan ini. Jalan ini dibangun bukan untuk gaya-gayaan, tapi sebagai akses vital angkutan dengan tonase besar. Makanya kami prioritaskan kualitas dan ketahanan,” ujarnya.
Harapan: Publik Cerdas dan Fair
Ia menambahkan bahwa suara-suara yang menyebut proyek ini korupsi atau tidak tepat sasaran muncul dari ketidakpahaman terhadap tahapan teknis dan kondisi lapangan. “Kalau dihitung, justru jalannya sekarang lebih panjang dari target awal. Dan ini baru tahap pertama. Jadi mohon publik tidak langsung menuduh sebelum memahami secara utuh,” ucap Yasir.
Terakhir, Yasir kembali mengajak semua pihak, termasuk BPD, untuk menjaga komunikasi, keterbukaan, dan memahami bahwa pembangunan desa butuh kolaborasi, bukan konflik.
“Kami tetap mengundang BPD dalam setiap agenda. Tapi kalau tidak hadir, kami tetap lanjutkan program karena warga dan lembaga lain mendukung. Jangan korbankan pembangunan hanya karena kepentingan segelintir pihak,” pungkasnya. (red/@bangsar25)












