Ngopi Bareng Redaksi Wartajavaindo di Kafe Bursky

Kolom : Kiem Bangsar

Malam sudah larut,tapi keceriaan belum mau beringsut.Di sudut tenang kawasan Pleburan, aroma kopi yang pekat bercampur tawa ringan mulai mengisi udara Kafe Bursky—tempat favorit tim redaksi Wartajavaindo Network untuk “ngendog” sejenak dari riuh deadline.

Pak Wid datang paling awal. Seperti biasa, membawa map lusuh penuh coretan redaksi dan potongan kliping media. Tak lama, Bangsar dan BangMet menyusul dengan langkah santai.

Mereka langsung memesan kopi tubruk dan es kopi susu khas Bursky yang sudah jadi langganan tetap. Disusul Gus Sapri, yang langsung duduk dan membuka obrolan, “Redaksi WJI Cetak edisi Jateng dan Kota Semarang, ayo kita matangkan malam ini.”

Obrolan pun mengalir cair. Dari perencanaan rubrik tematik “Panggung Daerah”, penguatan liputan legislatif Kota Semarang, sampai kolom “Tokoh Inspiratif Jateng” yang diusulkan Bangsar, semua dibahas santai tapi serius.

“Kayaknya kita perlu satu rubrik liputan mendalam soal pendidikan dan urbanisasi di Semarang,” celetuk BangMet sambil menyeruput kopi panas. Pak Wid mengangguk, lalu menambahkan bahwa perlu juga kolaborasi dengan kampus lokal untuk menyuplai perspektif segar dari mahasiswa.

Gus Sapri, seperti biasa, menyentil ide dengan bumbu khasnya, “Tapi jangan lupa, WJI ini harus jadi corong harapan warga, bukan cuma pengamat. Kita butuh narasi-narasi yang menggerakkan.”

Tertawa, canda, ide, dan strategi mengalir tanpa jeda. Di sudut lain, barista Bursky ikut mendengarkan sambil sesekali menyodorkan refill kopi. Malam itu bukan sekadar rapat redaksi, tapi juga perayaan semangat: bahwa jurnalisme daerah tetap hidup, bahkan di tengah gelas-gelas kopi yang menghangatkan ruang.

Begitulah, di bawah lampu kuning temaram dan nuansa industrial Cave Bursky, satu edisi baru WJI Cetak dirancang. Bukan hanya dengan kepala, tapi juga dengan hati.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *