BLORA, SAPUJAGAT.NET— Pemerintah Desa Tunjungan, Kabupaten Blora, terus mendorong percepatan pembangunan kawasan berbasis potensi lokal melalui sosialisasi program pengembangan terpadu.

Kegiatan ini melibatkan berbagai unsur strategis seperti KMP (Kelompok Masyarakat Pengelola), Bumdes dan Bumdesma, KTH (Kelompok Tani Hutan), serta LMDH (Lembaga Masyarakat Desa Hutan) untuk membentuk kawasan terintegrasi dengan orientasi pertanian, kehutanan, dan agrowisata.
Dalam sosialisasi yang dihadiri sekitar 80 peserta dari berbagai elemen masyarakat tersebut, Kepala Desa Tunjungan, Yasir Amma, ST, menegaskan pentingnya sinergitas lintas kelembagaan desa untuk mengoptimalkan potensi lahan yang ada.
“Kita tidak bisa bekerja sendiri-sendiri. Pembangunan desa hari ini harus melibatkan semua aktor. Dari KMP, Bumdes, sampai LMDH harus jadi satu sistem pembangunan kawasan,” ujarnya.
Hadir perwakilan dari Forkopimcam dan tokoh masyarakat Kec. Tunjungan.
Sentralisasi Buah, 250 Hektare Kegiatan Kehutanan
Program yang sedang dirintis mencakup pengembangan kawasan seluas 250 hektare di sektor kehutanan yang melibatkan sinergi dengan KPH Setempat, termasuk wilayah Mantingan dan Blora.
Sementara itu, sekitar 500 hektare akan difokuskan menjadi sentra buah-buahan, dengan success story pengembangan klengkeng sebagai contoh konkret yang telah berhasil dibudidayakan secara produktif.
Lahan tersebut akan dikembangkan menggunakan sistem tumpangsari dengan tanaman komoditas unggulan seperti kopi dan sorgum, yang dinilai adaptif terhadap kondisi iklim setempat serta memiliki nilai ekonomi tinggi.
Salah satu tokoh KMP dalam sosialisasi menjelaskan bahwa inisiatif ini merupakan bagian dari penguatan ketahanan pangan desa, yang juga sejalan dengan misi DP4 (Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan) Kabupaten Blora.
KMP mendorong pemanfaatan lahan non-hutan secara maksimal, termasuk di kawasan Nglawungan, yang selama ini sudah menunjukkan progres signifikan sebagai kawasan pendukung ketahanan pangan, baik dari sisi produksi maupun aspek keamanan pangan.
“Lahan kita cukup, dan masyarakat sudah mulai paham nilai strategis ketahanan pangan. Ini bukan hanya soal panen, tapi juga soal menjaga akses pangan dan kemandirian desa,” ujarnya.
Destinasi Wisata
Selain penguatan sektor pangan dan hortikultura, rencana jangka menengah juga mencakup pengembangan akses logistik dasar seperti gas dan sembako murah, yang akan dikelola melalui skema kerja sama dengan Bumdes.
Tak kalah penting, Bumdesma Tunjungan juga tengah mempersiapkan konsep destinasi wisata desa, dengan pendekatan ekowisata dan edukasi pertanian.
Kepala Desa Yasir Amma menyebutkan bahwa Desa Tunjungan memiliki potensi kuat untuk dikembangkan sebagai kawasan wisata berbasis alam dan edukasi pertanian terpadu.
“Kalau desa lain bisa hidup dari wisata, kenapa Tunjungan tidak? Kita punya hutan, punya buah, punya komunitas. Tinggal bagaimana membentuk narasi wisata yang khas,”
Menuju Kawasan Mandiri dan Terpadu
Dengan pola pembangunan berbasis kawasan, Desa Tunjungan mulai menunjukkan arah baru dalam tata kelola pembangunan desa.
Dari klengkeng, sorgum, hingga penguatan ketahanan pangan dan pengembangan ekowisata, langkah ini dinilai sebagai bagian dari transformasi desa konvensional menjadi desa produktif dan resilien di tengah tantangan pangan dan ekonomi nasional. (red/01)












